Sunday, January 12, 2020

Mental Kismin

Pada suatu masa hiduplah seorang pemuda gagah, tampan, namun dari segi ekonomi dia tergolong kategori miskin. Dia bermimpi untuk bisa berlayar dengan kapal pesiar yang harganya sangat mahal untuk seorang miskin sepertinya. Setiap hari dia bekerja keras, banting tulang, sampai akhirnya dia bisa mengumpulkan uang mencapai jumlah yang dibutuhkan untuk membeli tiket kapal pesiar yang harganya sangat mahal. Ketika dia sudah mendapatkan tiket, kemudian dia naik ke kapal pesiar itu. Perjalanan di kapal pesiar itu selama 1 pekan. Dia melihat banyak keramaian dan orang-orang berpakaian mewah.

Hingga suatu saat, dia berkeliling dan melihat orang-orang sedang makan disebuah restoran yang sangat mewah. Dia tidak berani untuk masuk ke dalam restoran itu dan hanya melihatnya dari kejauhan. Dia kembali lagi ke tempatnya dan hanya makan dari bekal roti yang dibawanya. Setiap hari dia begitu, sampai pada suatu saat dia sedang makan sambil bersembunyi. Lalu, ada petugas dari kapal pesiar tersebut memanggilnya.

"Hei!!" teriak petugas kapal.
"Pak saya bukan penumpang liar. Saya punya tiket." kata pemuda itu dengan suara ketakutan.
"Anda sedang apa disini?" tanya petugas kapal.
"Saya sedang makan perbekalan saya. Saya tidak mampu beli di restoran yang mewah itu." jawab pemuda itu.
"Kalau Anda memiliki tiket, Anda gratis makan di restoran itu. Tiket itu sudah satu paket dengan makanannya juga." jelas sang petugas kapal.

Sampai akhirnya pemuda miskin itu mengerti.

Nah, apa yang menjadi menarik dari kisah pemuda ini? Dia adalah seseorang yang memiliki mimpi yang besar dan kerja keras dalam merealisasikan mimpinya. Hingga akhirnya dia berhasil mendapatkan tiket untuk naik ke kapal pesiar itu. Namun, yang membuat dia berbeda adalah : dia masih memiliki mental miskin, masih mental minder. Dia naik kapal pesiar itu dengan mental makan siang dari bekal yang dia bawa. Dia belum memiliki mental bahwa dia setara dengan para penghuni di kapal pesiar tersebut.

Yang membuat minder itu adalah mental kita. Ini hanya masalah kepercayaan diri saja, hanya masalah mental saja, dan itu hanya ada di kepala kita saja.

~Inspirasi dari dosen kami di kampus yang sempat dipublish oleh SSW ~

Sekelumit Rasa

Ketika cinta belum tumbuh dan kini berubah menjadi benci
Ketika cinta belum menampakkan indahnya mencinta, kini berubah menjadi 1 kata yang sangat menyeramkan.

Cinta, satu rasa yang sangat diidam-idamkan dahulu kala.
Sempat merasakan indahnya cinta, nikmatnya dicinta dan mencinta, dan berdiri di atas nama cinta....
Cinta kepada seseorang yang aku menyayanginya dan iapun menyayangiku..
Tapi kami tidak mungkin bisa hidup bersama..

Menikah dengan seorang lelaki yang ia sangat mencintaiku, namun aku belum bisa mencintainya...
Yang ia tahu hanyalah aku mencintai lelaki yang telah kunikahi.
Yang ia tahu hanyalah aku ingin memiliki keturunan darinya.
Yang ia tahu hanya ia yang bisa membuatku bahagia.

Namun realita berbanding terbalik dengan apa yang ia pikirkan..
Aku, sama sekali belum bisa mencintainya.
Aku, belum memiliki keinginan untuk memiliki keturunan darinya.
Aku, selama ini merasa tidak bahagia bersamanya.

Kini, kuungkapkan padanya bahwa aku belum pernah mencintainya.
Ya, aku ungkapkan bahwa aku benci pada lelaki yang telah kunikahi.
Aku bertahan karena aku berusaha taat..
Hingga akhirnya ia tahu bahwa aku tidak menyimpan hati kepadanya.

Cinta, apakah rasa itu bisa ditumbuhkan..?
Cinta kepada orang yang kubenci..
Tidaklah mudah..
Biarlah waktu yang menjawabnya
Bukan hanya menunggu, tapi hanya diri kitalah yang bisa setting waktu tersebut.

Ya Rabb...
Titipkan cintaku ini kepada orang yang mencintaiMu, yang bisa membuatku menjadi teman di dunia, dan pemimpin untuk akhirat kelak..
Aku tahu bahwa hidup yang kekal adalah kehidupan setelah kehidupan yang sedang kujalani ini
Aku butuh seorang lelaki yang bisa melindungi..
Bisa menjadi teman, bisa menjadi layaknya seorang suami.,.
Bukan  seorang lelaki yang berkarakter perempuan..
Bukan seorang lelaki yang berkarakter lembut namun kasar..
Bukan seorang lelaki yang senantiasa dekat dengan Quran namun tidak mengerti kehidupan dunia..
Dunia, hanyalah sementara.. Yaa aku tahu..
Namun jangan juga melupakan dunia..
Dunia, tempat beramal..
Dunia, tempat mencari bekal..
Bukan hanya duduk terdiam di masjid saja.

Ingin berpisah karena dunia? Ia sampaikan HINA
Namun, apakah ia tahu bahwa ia sekarang sedang hidup dimana..?
Berilah aku petunjukMu yaa Rabb...
Bantu kami....

Sepi sendiri, 12 Januari 2020

Saturday, January 11, 2020

Pagi Itu.....

Senyum mentari bersinar memasuki ruangan kecil ini. Di balik tirai aku melihat lalu lalang orang yang sedang mencari rezeki. Terlihat ibu setengah baya sedang memanggul karung besar di punggungnya. Tak sedikit pula terlihat seorang lelaki tua membawa amunisi cangkul untuk melaksanakan tugasnya di perkebunan orang kaya. Anak-anak kecil tengah berlari mengejar binatang kesukaannya. Dan, aku.... Aku yang masih berbisik pada angin, mengapa aku hanya duduk terdiam memikirkan kami di masa lalu?
Aku terpenjara dalam kenangan masa lalu..
Aku ingin memiliki senyum seperti anak kecil yang sedang berlarian kecil itu..
Aku ingin memiliki semangat membara seperti bapak-bapak yang membawa cangkul yang baru saja melewatiku..
Aku ingin memiliki mental dan jiwa yang kuat seperti ibu yang sedang memanggul karung besar.
Dirinya bisa menepis kenangan buruk diantara kami..
Dirinya bisa kembali tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara kami..
Dirinya bisa bangkit dan memiliki asa untuk masa depan...
Apakah aku akan terus seperti ini..?
Memikirkan kami di masa lalu yang sebenarnya masih ada beberapa kenangan ingin ku kenang...
Bagaimana caranya agar aku menjadi seperti dia,,?
Bagaimana caranya agar aku bisa kembali tersenyum selebar senyumnya....??

Allah.....
Dia dekat denganMu yaa  Rabb...
Dia dekat dengan Al-Qurannya..
Dia dekat dengan rasa yakinnya pada Engkau Ya Rabb...

Aaaaah kini mentariMu sudah mulai menyinari wajahku... Berbaring, duduk, berbaring kembali.... Tanpa terasa pipi kanan dan kiriku sudah dibasahi oleh air yang mengalir dari kedua mataku.
Kuambil ponsel yang berada tak jauh dariku..
Kutekan nomer ponselnya, dan kriiiiiing..... alhamdulillah ia mengangkatnya..
Aku ceritakan semua kepadanya tentang kondisiku saat ini..
Dan, dengan jelas dia mengatakan apa yang harus aku lakukan saat ini..
Yaaa., di telpon dia mengatakan apa yang harus aku lakukan sekarang juga..
Aku menunggu apa yang akan dia katakan..
Dan...., dengan lirih dia berkata :
Pertama yang harus kau lakukan adalah bangkit dari tempat berbaringmu sekarang..
Kedua, arahkan langkahmu menuju kamar tidur.
Ketiga, ambil handuk yang tergantung di dinding warna orange itu.
Keempat, segera ke kamar mandi, karena sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 07.15..
Ayooooo ngantooooooor..

Dengan sigap aku bergegas melakukan apa yang ia perintahkan..
Ya Rabb., aku ingin melakukan perintahMu seperti aku melakukan apa yang diperintahkannya...

Aaaaah,.... Terlalu banyak  berkhayal....
Bu bos sudah menunggu di kantor....




2020

Apa yang ada di dalam pikiran kita jika mendengar tahun 2020..?
Mungkin sebagian dari kita memiliki resolusi 2020 yang ternyataaaa bisa jadi resolusi 2020 adalah hasil dari resolusi 2019 yang belum tercapai..
Hahahaaa., benarkah..?
Hmmm yaaa ada benarnya juga...

Dua ribu dua puluh.. Kita sekarang memasuki revolusi industri 4.0 yang merupakan perpaduan sistem teknologi fisik, digital, dan biologis yang mengubah cara hidup manusia, yang menghasilkan artificial intelligent, internet of things (IoT), rekayasa genetika, kendaraan otonom, big data, cloud computing, neuroteknologi, dan 3D printing. 

Dari teknologi tersebut, tentu mengubah sistem sosial, ekonomi, dan politik, bahkaaan dalam dunia pendidikan pun akan berubah..
Sebenarnya sudah ada sejak lama mislanya saja artificial intelligent (AI), di era sebelumnya kita sudah mengenal apa itu AI..

Mungkiin, dulu Indonesia belum siap menghadapi AI, bahkan ada yang menyebutkan bahwa AI terlalu kaku., dan mungkin kata AI hanya familiar di dalam lingkungan orang-orang yang bergelut dengan IT saja.. Tapi sekarang, Indonesia dituntut untuk serba teknologi.
Yang dulu masih sistem setengah digital, sekarang sudah serba digital..
Apakah kita harus takut kehilangan pekerjaan karena sudah ada teknologi industri 4.0 yang serba digital..?
Noooo., JANGAN TAKUT DIGANTI ROBOT.

Begini, mesin/sistem dikendalikan oleh manusia, sehingga bukan kita yang harusnya takut kehilangan pekerjaan.., justru perusahaan-perusahaan yang akan mencari kita..

Logikanya, sebuah PC tidak akan berjalan dengan semestinya jika tidak ada user.
Begitu juga dengan pekerjaan yang kini sudah banyak dilakukan oleh sistem..
Lantas, bagaimana bisa kita mengendalikan sistem atau minimalnya menjadi user dalam menghadapi industri 4.0 ini..?
Berikut ini beberapa skill yang harus kita miliki dalam menghadapi era serba digital., diantaranya :
1. Conceptual Thinking and Skill
    
2. Influence and Impact Skill

3. Team Work

4. Achivement and Action

AI bisa saja memiliki conceptual thinking yang tinggi, namun tetap saja, AI dibuat oleh manusia sehingga kita harus memiliki kemampuan lebih dalam memahami persoalan secara menyeluruh. Dan tidak menutup kemungkinan akan ada solusi-solusi dengan teknik A, B, C, bahkan bila perlu sampai Z untuk memecahkan masalah yang ada.







 

Thursday, May 14, 2015

Cerpen Belum Berakhir


“Mengapa kau disini?”, tanyaku padanya.
“Eeeeemmm.... aku sedang menunggu teman.” Novi dengan wajah setengah kalut menjawab pertanyaanku. Namun, kutahu bahwa ia sedang berbohong. Ia selalu menghindari tatapan bola mataku.
“Teman? Di tempat sesepi ini?” timpalku kembali dengan nada heran.
Seketika saat kulontarkan pertanyaan itu, dan.....BRUUG.....
Wajahnya pucat, tubuhnya lemas, handphone yang ia pegang sedari tadi terlepas tak jauh dari ia berdiri.
“Nov, noviiiii......” teriakku..
“Noviii.... Ada apa denganmu Nov?”
“Jawablah pertanyaanku..”
Sesaat sebelum aku menggendongnya, aku merasa ada yang aneh. Entah mengapa seperti ada sepasang bola mata yang terus mengikuti kejadian ini. Ahhh... mungkin itu hanya perasaanku saja..
Kugendong ia dan lagi-lagi aku merasa ada sepasang bola mata yang mengikuti kami. Baru saja beberapa langkah kugendongnya, kumelihat dan merasakan ada jari-jemari putih hinggap di pundakku. Dia memanggilku dengan sangat lembut, Friska. Ya, ia tau namaku. Aku ingin berbalik dan melihat siapa pemilik tangan putih bersih nan harum itu.
Perlahan ku balikkan badanku. Sontak, tiba-tiba tubuhku lemas, keringat dingin bercucuran, dan BRUUG,,, Novi terlepas dari pangkuanku. Aku tak kuasa melihat sosok yang memanggilku dengan lembut itu.
----------------------------




Monday, September 10, 2012

Larangan Berhubungan dengan Jin

Jin adalah salah satu makhluk ghaib yang telah diciptakan Allah swt untuk beribadah kepada-Nya.

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Adz-dzariyat: 56).

Sebagaimana malaikat, kita tidak dapat mengetahui informasi tentang jin serta alam ghaib lainnya kecuali melalui khabar shadiq (riwayat & informasi yang shahih) dari Rasulullah saw baik melalui Al-Quran maupun Hadits beliau yang shahih. Alasan nya adalah karena kita tidak dapat berhubungan secara fisik dengan alam ghaib dengan hubungan yang melahirkan informasi yang meyakinkan atau pasti.

Katakanlah: “tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila (kapan) mereka akan dibangkitkan. (An-Naml: 65)
Dia adalah Tuhan yang mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu. (Al-Jin: 26-28).

Manusia diperintahkan oleh Allah swt untuk melakukan muamalah (pergaulan) dengan sesama manusia, karena tujuan hubungan sosial adalah untuk melahirkan ketenangan hati, kerja sama yang baik, saling percaya, saling menyayangi dan saling memberi. Semua itu dapat berlangsung dan terwujud dengan baik, karena seorang manusia dapat mendengarkan pembicaraan saudaranya, dapat melihat sosok tubuhnya, berjabatan tangan dengannya, melihatnya gembira sehingga dapat merasakan kegembiraan nya, dan melihatnya bersedih sehingga bisa merasakan kesedihannya.

Allah swt mengetahui fitrah manusia yang cenderung dan merasa tenteram bila bergaul dengan sesama manusia, oleh karena itu, Dia tidak pernah menganjurkan manusia untuk menjalin hubungan dengan makhluk ghaib yang asing bagi manusia. Bahkan Allah swt tidak memerintahkan kita untuk berkomunikasi dengan malaikat sekalipun, padahal semua malaikat adalah makhluk Allah yang taat kepada-Nya. Para nabi dan rasul alahimussalam pun hanya berhubungan dengan malaikat karena perintah Allah swt dalam rangka menerima wahyu, dan amat berat bagi mereka jika malaikat menampakkan wujudnya yang asli di hadapan mereka. Oleh karena itu tidak jarang para malaikat menemui Rasulullah saw dalam wujud manusia sempurna agar lebih mudah bagi Rasulullah saw untuk menerima wahyu.

Tentang ketenteraman hati manusia berhubungan dengan sesama manusia Allah swt berfirman:
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (Ar-Rum: 21).

Makna “dari jenismu sendiri’ adalah dari sesama manusia, bukan jin atau malaikat, atau makhluk lain yang bukan manusia. Karena hubungan dengan makhluk lain, apalagi dalam bentuk pernikahan, tidak akan melahirkan ketenteraman, padahal ketenteraman adalah tujuan utama menjalin hubungan.

Beberapa Informasi tentang  Jin dari Al-Quran & Hadits
a.  Jin diciptakan dari api dan diciptakan sebelum manusia
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin sebelumnya dari api yang sangat panas. (Al-Hijr: 26-27).
خُلِقَتِ  . رواه مسلم الْمَلاَئِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ
Malaikat telah diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari tanah (yang telah dijelaskan kepada kalian). (Muslim)

Perbedaan asal penciptaan ini menyebabkan manusia tidak dapat berhubungan dengan jin, sebagaimana manusia tidak bisa berhubungan dengan malaikat kecuali jika jin atau malaikat menghendakinya. Apabila manusia meminta jin agar bersedia berhubungan dengannya, maka pasti jin tersebut akan mengajukan syarat-syarat tertentu yang berpotensi menyesatkan manusia dari jalan Allah swt.

b.  Jin adalah makhluk yang berkembang biak dan berketurunan
Dan (Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah Iblis itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zhalim. (Al-Kahfi: 50).

Al-Quran juga menyebutkan bahwa di antara bangsa jin ada kaum laki-laki nya (rijal) sehingga para ulama menyimpulkan berarti ada kaum perempuannya (karena tidak dapat dikatakan laki-laki kalau tidak ada perempuan). Dengan demikian berarti mereka berkembang biak.
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6).

c. Jin dapat melihat manusia sedangkan manusia tidak dapat melihat jin
Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya ‘auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. (Al-A’raf: 27).
Hal ini membuat kita tidak dapat berhubungan dengan mereka secara wajar sebagaimana hubungan sesama manusia. Kalau pun terjadi hubungan, maka kita berada pada posisi yang lemah, karena kita tidak dapat melihat mereka dan mereka bisa melihat kita.

d. Bahwa di antara bangsa jin ada yang beriman dan ada pula yang kafir, karena mereka diberikan iradah (kehendak) dan hak memilih seperti manusia.
Dan sesungguhnya di antara kami ada jin yang taat dan ada (pula) jin yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang taat, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus. Adapun jin yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahanam. (Al-Jin (72): 14-15).

Meskipun ada yang muslim, tapi karena jin makhluk ghaib, maka tidak mungkin muncul ketenteraman hati dan kepercayaan penuh bagi kita terhadap keislaman mereka, apakah benar jin yang mengaku muslim jujur dengan pengakuannya atau dusta?! Kalau benar, apakah mereka muslim yang baik atau bukan?! Bahkan kita harus waspada dengan tipu daya mereka.

Berhubungan dengan jin adalah salah satu pintu kerusakan dan berpotensi mendatangkan bahaya besar bagi pelakunya. Potensi bahaya ini dapat kita pahami dari hadits Qudsi di mana Rasulullah saw menyampaikan pesan Allah swt:
وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ، وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ،رواه مسلم وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا.
Dan sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku semua dalam keadaan hanif (lurus), dan sungguh mereka lalu didatangi oleh setan-setan yang menjauhkan mereka dari agama mereka, mengharamkan apa yang telah Aku halalkan, dan memerintahkan mereka untuk menyekutukan-Ku dengan hal-hal yang tidak pernah Aku wahyukan kepada mereka sedikit pun. (Muslim)

Dalil lain tentang larangan berhubungan dengan jin adalah:
Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan. (Al-Jin: 6).

Imam At-Thabari dalam tafsirnya menyebutkan: “Ada penduduk kampung dari bangsa Arab yang menuruni lembah dan menambah dosa mereka dengan meminta perlindungan kepada jin penghuni lembah tersebut, lalu jin itu bertambah berani mengganggu mereka.

Tujuan seorang muslim melakukan hubungan sosial adalah dalam rangka beribadah kepada Allah swt dan berusaha meningkatkannya atau untuk menghindarkan dirinya dari segala hal yang dapat merusak ibadahnya kepada Allah. Melakukan hubungan dengan jin berpotensi merusak penghambaan kita kepada Allah yaitu terjatuh kepada perbuatan syirik seperti yang dijelaskan oleh ayat tersebut. Ketidakmampuan kita melihat mereka dan kemampuan mereka melihat kita berpotensi menjadikan kita berada pada posisi yang lebih lemah, sehingga jin yang kafir atau pendosa sangat mungkin memperdaya kita agar bermaksiat kepada Allah swt.

Bagaimana berhubungan dengan jin yang mengaku muslim? Kita tetap tidak dapat memastikan kebenaran pengakuannya karena kita tidak dapat melihat apalagi menyelidiki nya. Bila jin tersebut muslim sekalipun, bukan menjadi jaminan bahwa ia adalah jin muslim yang baik dan taat kepada Allah.

Di samping itu, tidak ada manusia yang dapat menundukkan jin sepenuhnya (taat sepenuhnya tanpa syarat) selain Nabi Sulaiman as dengan doanya:
Sulaiman berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi”. (Shad (38): 35).

Maka berhubungan dengan jin tidak mungkin dilakukan kecuali apabila jin itu menghendakinya, dan sering kali ia baru bersedia apabila manusia memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat ini dapat dipastikan secara bertahap akan menggiring manusia jatuh kepada kemaksiatan, bahkan mungkin kemusyrikan dan kekufuran yang mengeluarkannya dari ajaran Islam. Na’udzu billah.
Wallahu a’lam.

Referensi:
1.    Silsilah Aqidah oleh Umar Sulaiman Al Asyqar
2.    Al ‘Aqaid Al-Islamiyah oleh Abdurrahman Hasan Habannakah
3.    Tafsir At-Thabari

Sumber:
Modul Tarbiyah Islamiah (LKMT)

Saturday, August 18, 2012

Resume Bagaimana Menyentuh Hati ~Abbas As-Siisiy~

Buku karangan Abbas As-Sisiy ini ditulis dengan gaya bahasa yang mudah difahami dan dibuat semenarik mungkin. Anda tidak akan bosan tatkala membacanya, bahkan Anda akan merasakan belaian kasih sayang yang menyentuh jiwa, sehingga Anda akan terus-menerus merindukannya.

Pada judul buku ini terdapat suatu kandungan maksud untuk membersihkan berbagai sikap keras dan tindakan kurang bijak dengan menunjukkan jalan-jalan menuju hati.

Kita harus membekali diri dengan ikatan kasih sayang yang mendalam untuk meneguhkan hati dan mengokohkan pijakan bersama Kitabullah dan syariat Allah yang jelas.

Untuk kefakiran kukenakan pakaian kebesaran
Untuk kesabaran kupilin tali yang panjang
Aku bersabar kerana tekad, bukan kerelaan
Dan kubangun dakwahku, generasi demi generasi

Allah swt. berfirman,
"Wahai orang-orang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negeri kalian) dan bertaqwalah kalian kepada Allah supaya kalian beruntung." (Ali Imran: 200)

Individu adalah komponen terkecil penyusun masyarakat, Dia memegang peranan penting dalam menentukan perjalanan dan bentuk masyarakat itu sendiri. Oleh kerana itu, yang menjadi tonggak dalam gerakan kita adalah individu, kemudian keluarga, dan akhirnya masyarakat. Maka perbaikilah dirimu terlebih dahulu, kemudian serulah orang lain ke jalan kebaikan. Kerana terwujudnya peribadi-peribadi yang benar-benar mukmin akan membuka banyak peluang untuk sukses. Inilah karakteristik Islam yang paling menonjol, iaitu pembentukan pribadi islami {takwin asy-syakhshiyab al-islamiyyah).

Walau jumlah orang yang memusuhi Islam sangat banyak, namun jika kita dapat mengajak satu orang dari mereka dalam setiap hari agar mahu bergabung dalam dakwah islamiah, maka perlahan tapi pasti kita telah mengentaskan mereka dari kehinaan jahiliah menuju kemuliaan di bawah naungan cahaya Islam. 

Bukankah ini adalah tujuan dakwah? Bukankah mencari pengikut dengan cara seperti ini adalah tindakan yang bijaksana dan akan membuahkan hasil yang jelas? Tugas kita adalah meluruskan pendapat umum yang salah terhadap Islam. Jika individu bisa menjadi baik, maka nusyarakat pun akan menjadi baik, dan dengan sendiri-nya Islam akan berdiri tegak. Dalam jamaah dakwah islamiah sendiri, kita mengadakan suatu program yang kita sebut dengan projek al-akh al-wahid, yaitu setiap anggota berjanji dan berusaha untuk mengajak satu orang anggota baru dalam satu tahun.

Download Fip Book Resume Bagaimana Menyentuh Hati Disini

Screenshot