Sunday, January 12, 2020

Mental Kismin

Pada suatu masa hiduplah seorang pemuda gagah, tampan, namun dari segi ekonomi dia tergolong kategori miskin. Dia bermimpi untuk bisa berlayar dengan kapal pesiar yang harganya sangat mahal untuk seorang miskin sepertinya. Setiap hari dia bekerja keras, banting tulang, sampai akhirnya dia bisa mengumpulkan uang mencapai jumlah yang dibutuhkan untuk membeli tiket kapal pesiar yang harganya sangat mahal. Ketika dia sudah mendapatkan tiket, kemudian dia naik ke kapal pesiar itu. Perjalanan di kapal pesiar itu selama 1 pekan. Dia melihat banyak keramaian dan orang-orang berpakaian mewah.

Hingga suatu saat, dia berkeliling dan melihat orang-orang sedang makan disebuah restoran yang sangat mewah. Dia tidak berani untuk masuk ke dalam restoran itu dan hanya melihatnya dari kejauhan. Dia kembali lagi ke tempatnya dan hanya makan dari bekal roti yang dibawanya. Setiap hari dia begitu, sampai pada suatu saat dia sedang makan sambil bersembunyi. Lalu, ada petugas dari kapal pesiar tersebut memanggilnya.

"Hei!!" teriak petugas kapal.
"Pak saya bukan penumpang liar. Saya punya tiket." kata pemuda itu dengan suara ketakutan.
"Anda sedang apa disini?" tanya petugas kapal.
"Saya sedang makan perbekalan saya. Saya tidak mampu beli di restoran yang mewah itu." jawab pemuda itu.
"Kalau Anda memiliki tiket, Anda gratis makan di restoran itu. Tiket itu sudah satu paket dengan makanannya juga." jelas sang petugas kapal.

Sampai akhirnya pemuda miskin itu mengerti.

Nah, apa yang menjadi menarik dari kisah pemuda ini? Dia adalah seseorang yang memiliki mimpi yang besar dan kerja keras dalam merealisasikan mimpinya. Hingga akhirnya dia berhasil mendapatkan tiket untuk naik ke kapal pesiar itu. Namun, yang membuat dia berbeda adalah : dia masih memiliki mental miskin, masih mental minder. Dia naik kapal pesiar itu dengan mental makan siang dari bekal yang dia bawa. Dia belum memiliki mental bahwa dia setara dengan para penghuni di kapal pesiar tersebut.

Yang membuat minder itu adalah mental kita. Ini hanya masalah kepercayaan diri saja, hanya masalah mental saja, dan itu hanya ada di kepala kita saja.

~Inspirasi dari dosen kami di kampus yang sempat dipublish oleh SSW ~

Sekelumit Rasa

Ketika cinta belum tumbuh dan kini berubah menjadi benci
Ketika cinta belum menampakkan indahnya mencinta, kini berubah menjadi 1 kata yang sangat menyeramkan.

Cinta, satu rasa yang sangat diidam-idamkan dahulu kala.
Sempat merasakan indahnya cinta, nikmatnya dicinta dan mencinta, dan berdiri di atas nama cinta....
Cinta kepada seseorang yang aku menyayanginya dan iapun menyayangiku..
Tapi kami tidak mungkin bisa hidup bersama..

Menikah dengan seorang lelaki yang ia sangat mencintaiku, namun aku belum bisa mencintainya...
Yang ia tahu hanyalah aku mencintai lelaki yang telah kunikahi.
Yang ia tahu hanyalah aku ingin memiliki keturunan darinya.
Yang ia tahu hanya ia yang bisa membuatku bahagia.

Namun realita berbanding terbalik dengan apa yang ia pikirkan..
Aku, sama sekali belum bisa mencintainya.
Aku, belum memiliki keinginan untuk memiliki keturunan darinya.
Aku, selama ini merasa tidak bahagia bersamanya.

Kini, kuungkapkan padanya bahwa aku belum pernah mencintainya.
Ya, aku ungkapkan bahwa aku benci pada lelaki yang telah kunikahi.
Aku bertahan karena aku berusaha taat..
Hingga akhirnya ia tahu bahwa aku tidak menyimpan hati kepadanya.

Cinta, apakah rasa itu bisa ditumbuhkan..?
Cinta kepada orang yang kubenci..
Tidaklah mudah..
Biarlah waktu yang menjawabnya
Bukan hanya menunggu, tapi hanya diri kitalah yang bisa setting waktu tersebut.

Ya Rabb...
Titipkan cintaku ini kepada orang yang mencintaiMu, yang bisa membuatku menjadi teman di dunia, dan pemimpin untuk akhirat kelak..
Aku tahu bahwa hidup yang kekal adalah kehidupan setelah kehidupan yang sedang kujalani ini
Aku butuh seorang lelaki yang bisa melindungi..
Bisa menjadi teman, bisa menjadi layaknya seorang suami.,.
Bukan  seorang lelaki yang berkarakter perempuan..
Bukan seorang lelaki yang berkarakter lembut namun kasar..
Bukan seorang lelaki yang senantiasa dekat dengan Quran namun tidak mengerti kehidupan dunia..
Dunia, hanyalah sementara.. Yaa aku tahu..
Namun jangan juga melupakan dunia..
Dunia, tempat beramal..
Dunia, tempat mencari bekal..
Bukan hanya duduk terdiam di masjid saja.

Ingin berpisah karena dunia? Ia sampaikan HINA
Namun, apakah ia tahu bahwa ia sekarang sedang hidup dimana..?
Berilah aku petunjukMu yaa Rabb...
Bantu kami....

Sepi sendiri, 12 Januari 2020

Saturday, January 11, 2020

Pagi Itu.....

Senyum mentari bersinar memasuki ruangan kecil ini. Di balik tirai aku melihat lalu lalang orang yang sedang mencari rezeki. Terlihat ibu setengah baya sedang memanggul karung besar di punggungnya. Tak sedikit pula terlihat seorang lelaki tua membawa amunisi cangkul untuk melaksanakan tugasnya di perkebunan orang kaya. Anak-anak kecil tengah berlari mengejar binatang kesukaannya. Dan, aku.... Aku yang masih berbisik pada angin, mengapa aku hanya duduk terdiam memikirkan kami di masa lalu?
Aku terpenjara dalam kenangan masa lalu..
Aku ingin memiliki senyum seperti anak kecil yang sedang berlarian kecil itu..
Aku ingin memiliki semangat membara seperti bapak-bapak yang membawa cangkul yang baru saja melewatiku..
Aku ingin memiliki mental dan jiwa yang kuat seperti ibu yang sedang memanggul karung besar.
Dirinya bisa menepis kenangan buruk diantara kami..
Dirinya bisa kembali tersenyum seolah-olah tidak terjadi apa-apa diantara kami..
Dirinya bisa bangkit dan memiliki asa untuk masa depan...
Apakah aku akan terus seperti ini..?
Memikirkan kami di masa lalu yang sebenarnya masih ada beberapa kenangan ingin ku kenang...
Bagaimana caranya agar aku menjadi seperti dia,,?
Bagaimana caranya agar aku bisa kembali tersenyum selebar senyumnya....??

Allah.....
Dia dekat denganMu yaa  Rabb...
Dia dekat dengan Al-Qurannya..
Dia dekat dengan rasa yakinnya pada Engkau Ya Rabb...

Aaaaah kini mentariMu sudah mulai menyinari wajahku... Berbaring, duduk, berbaring kembali.... Tanpa terasa pipi kanan dan kiriku sudah dibasahi oleh air yang mengalir dari kedua mataku.
Kuambil ponsel yang berada tak jauh dariku..
Kutekan nomer ponselnya, dan kriiiiiing..... alhamdulillah ia mengangkatnya..
Aku ceritakan semua kepadanya tentang kondisiku saat ini..
Dan, dengan jelas dia mengatakan apa yang harus aku lakukan saat ini..
Yaaa., di telpon dia mengatakan apa yang harus aku lakukan sekarang juga..
Aku menunggu apa yang akan dia katakan..
Dan...., dengan lirih dia berkata :
Pertama yang harus kau lakukan adalah bangkit dari tempat berbaringmu sekarang..
Kedua, arahkan langkahmu menuju kamar tidur.
Ketiga, ambil handuk yang tergantung di dinding warna orange itu.
Keempat, segera ke kamar mandi, karena sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 07.15..
Ayooooo ngantooooooor..

Dengan sigap aku bergegas melakukan apa yang ia perintahkan..
Ya Rabb., aku ingin melakukan perintahMu seperti aku melakukan apa yang diperintahkannya...

Aaaaah,.... Terlalu banyak  berkhayal....
Bu bos sudah menunggu di kantor....




2020

Apa yang ada di dalam pikiran kita jika mendengar tahun 2020..?
Mungkin sebagian dari kita memiliki resolusi 2020 yang ternyataaaa bisa jadi resolusi 2020 adalah hasil dari resolusi 2019 yang belum tercapai..
Hahahaaa., benarkah..?
Hmmm yaaa ada benarnya juga...

Dua ribu dua puluh.. Kita sekarang memasuki revolusi industri 4.0 yang merupakan perpaduan sistem teknologi fisik, digital, dan biologis yang mengubah cara hidup manusia, yang menghasilkan artificial intelligent, internet of things (IoT), rekayasa genetika, kendaraan otonom, big data, cloud computing, neuroteknologi, dan 3D printing. 

Dari teknologi tersebut, tentu mengubah sistem sosial, ekonomi, dan politik, bahkaaan dalam dunia pendidikan pun akan berubah..
Sebenarnya sudah ada sejak lama mislanya saja artificial intelligent (AI), di era sebelumnya kita sudah mengenal apa itu AI..

Mungkiin, dulu Indonesia belum siap menghadapi AI, bahkan ada yang menyebutkan bahwa AI terlalu kaku., dan mungkin kata AI hanya familiar di dalam lingkungan orang-orang yang bergelut dengan IT saja.. Tapi sekarang, Indonesia dituntut untuk serba teknologi.
Yang dulu masih sistem setengah digital, sekarang sudah serba digital..
Apakah kita harus takut kehilangan pekerjaan karena sudah ada teknologi industri 4.0 yang serba digital..?
Noooo., JANGAN TAKUT DIGANTI ROBOT.

Begini, mesin/sistem dikendalikan oleh manusia, sehingga bukan kita yang harusnya takut kehilangan pekerjaan.., justru perusahaan-perusahaan yang akan mencari kita..

Logikanya, sebuah PC tidak akan berjalan dengan semestinya jika tidak ada user.
Begitu juga dengan pekerjaan yang kini sudah banyak dilakukan oleh sistem..
Lantas, bagaimana bisa kita mengendalikan sistem atau minimalnya menjadi user dalam menghadapi industri 4.0 ini..?
Berikut ini beberapa skill yang harus kita miliki dalam menghadapi era serba digital., diantaranya :
1. Conceptual Thinking and Skill
    
2. Influence and Impact Skill

3. Team Work

4. Achivement and Action

AI bisa saja memiliki conceptual thinking yang tinggi, namun tetap saja, AI dibuat oleh manusia sehingga kita harus memiliki kemampuan lebih dalam memahami persoalan secara menyeluruh. Dan tidak menutup kemungkinan akan ada solusi-solusi dengan teknik A, B, C, bahkan bila perlu sampai Z untuk memecahkan masalah yang ada.